-->

6 Resiko Investasi Reksadana dan Cara Mengatasinya

Resiko merupakan sesuatu yang melekat dalam investasi. Tidak mungkin investasi tanpa resiko.

Tujuan mengetahui resiko bukan untuk menakut-nakuti, menimbulkan rasa khawatir, tetapi bagaimana bisa mengelolanya agar hasil investasi optimal.

Dengan paham resiko tersebut, Anda dapat pula membandingkan dengan kelebihan dan kekurangan emas atau instrumen lainnya.

Resiko Investasi Reksadana

Tugas investor ialah memahami apa resiko investasi Reksadana dan bagaimana mengelolanya agar dampak negatif dapat diminimalkan.

1. Return Reksadana Tidak Pasti

Banyak yang menganggap Reksadana sama dengan Tabungan atau Deposito.

Itulah pemahaman yang salah. 100 persen salah karena kedua instrumen ini sangat berbeda.

Resiko Reksadana lebih tinggi. Keuntungannya tidak pasti.

Return Reksadana tidak pasti. Bisa untung, bisa rugi.

Untuk menghadapi ketidakpastian ini, investor yang ingin membeli Reksadana dapat melakukan hal berikut:

Memilih Reksadana yang tepat karena terdapat berbagai jenis Reksadana yang memiliki tingkat resiko berbeda. Ketepatan pemilihan yang sesuai dengan keuangan menjadi kunci keberhasilan rencana investasi

melakukan diversifikasi. Tidak menaruh semua uangnya di satu tempat, tetapi menyebarkannya ke banyak instrumen, agar jika yang satu rugi, masih ada yang lain.

2. Tidak Ada Jaminan Pemerintah

Jika Reksadana rugi, maka kerugian tersebut harus ditanggung oleh nasabah. Tidak ada perlindungan dari pemerintah.

Ini berbeda dengan tabungan dan deposito yang dijamin oleh pemerintah. Sehingga menaruh uang di tabungan tidak akan mungkin berkurang nilainya.

Karena itu, dengan resiko ke-dua ini, kembali lagi ke poin 1 diatas, investor perlu memilih jenis reksadana yang tepat dan melakukan diversifikasi.

3. Tidak Ada Proteksi Jiwa

Bagaimana jika pencari nafkah terkena musibah sehingga tidak dapat melanjutkan investasi di Reksadana ?

Investasi stop. Tidak ada pihak lain yang mengggantikan dan melanjutkannya.

Reksadana tidak memiliki proteksi asuransi karena ia murni investasi.

Ini sebuah resiko.

Namun dapat dikelola dengan membeli asuransi jiwa sebagai proteksi. Jika investor terkena musibah, masih ada uang dari asuransi untuk melanjutkan investasi.

Apa asuransi yang perlu dibeli? Kami merekomendasikan Asuransi Jiwa Term Life karena preminya murah dan nilai proteksinya cukup besar.

4. Harus Inisiatif

Investasi di Reksadana membutuhkan kedisplinan dalam menabung karena tidak ada pihak yang mengingatkan investor. Jika lupa, investor kehilangan momentum.

Berbeda dengan asuransi yang nasabah harus membayar premi secara rutin. Di Reksadana tidak ada kewajiban membayar secara rutin.

Tetapi, kealpaan di Reksadana dapat diatasi dengan bantuan program Auto Invest. Ini ialah program investasi Reksadana yang diset secara otomatis setiap bulan, sehingga setiap bulan uang Anda di tabungan secara otomatis akan dipotong untuk diinvestasikan ke Reksadana yang sudah dipilih.

Jadi, pemodal tidak perlu khawatir lagi akan lupa berinvestasi karena sistem secara otomatis memotong rekening investor dalam jumlah yang telah ditentukan untuk ditempatkan dalam Reksadana.

5. Reksadana Bisa Dibubarkan

Ada sejumlah kondisi dimana Reksadana dibubarkan seperti berikut:

Diperintahkan oleh OJK sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku:

Nilai Aktiva Bersih Reksadana menjadi kurang dari nilai Rp 25.000.000.000,- (dua puluh lima miliar Rupiah) selama 90 (sembilan puluh) Hari Bursa berturut-turut, Manajer Investasi akan melakukan pembubaran dan likuidasi.

Bagaimana menghadapi resiko ini ?

Dari ketentuan ini, dapat dilihat bahwa kinerja yang buruk akan berujung pada pembubaran Reksadana. Oleh sebab itu, investor perlu memilih Reksadana yang kinerjanya baik.

Investor perlu melihat daftar list reksadana dengan menganalisa data nilai aktiva bersih.

Perhitungan nilai aktiva bersih reksadana menunjukkan seberapa besar jumlah uang dalam reksadana yang dikelola oleh Manajer Investasi. Semakin besar menunjukkan semakin kuat Reksdana tersebut.

Niscaya, jika kinerjanya bagus, Reksadana tidak mungkin akan dibubarkan. 

6. Pencairan Bisa Tak Dilakukan

Secara normal, pencairan Reksadana dilakukan dalam 3 hari. Jadi, jika investor mencairkan hari ini maka H+3 uangnya sudah masuk ke rekening nasabah.

Itu normalnya. Apakah bisa tidak masuk dalam 3 hari ?

Bisa. Ada resiko tersebut.

Ada resiko likuiditas.Penjualan Kembali (pelunasan) tergantung kepada likuiditas dari portofolio atau kemampuan dari Manajer Investasi untuk membeli kembali (melunasi) dengan menyediakan uang tunai.

Risiko likuiditas dapat timbul jika pada saat yang bersamaan, semua investor melakukan penjualan Reksadana dan Manajer Investasi gagal menyediakan dana.

Untuk mengatasi ini, kita perlu melihat kekuatan Manajer Investasi. Salah satunya melihat besaran dana kelolaan atau AUM Manajer Investasi.

AUM adalah asset bersih yang dikelola Manajer Investasi. Nilai AUM bisa dilihat, salah satunya, di Bareksa data reksadana

Dana kelolaan mencerminkan kepercayaan investor terhadap Manajer Investasi. Makin besar makin baik.

Reksadana memang menawarkan return yang lebih tinggi dibandingkan tabungan dan deposito. Namun, ada sejumlah resiko investasi Reksadana.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel