Mengenal Kampung Adat Jalawastu di Brebes yang Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya - Warta Brebes

Jumat, 25 Desember 2020

Mengenal Kampung Adat Jalawastu di Brebes yang Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya


BREBES
– Kampung Adat Jalawastu yang terletak di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, pada Selasa (10/3) dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dengan Kategori Ritus Adat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kampung adat ini dinilai mempunyai keunikan dan menjadi bagian dari obyek pemajuan budaya.

Sertifikat penobatan diserahkan saat pelaksanaan upacara Adat Ngasa oleh Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Agus Tristanto, kepada Bupati Brebes Idza Priyanti, dan berikutnya diserahkan kepada Pemangku Adat Kampung Jalawasto, Darsono.

Agung menerangkan, penobatan Kampung Jalawastu sebagai WBTB sebenarnya telah ditetapkan sejak Oktober 2019. Hanya saja, penyerahan sertifikatnya menunggu momen bersejarah, yakni pada saat pelaksanaan upacara Adat Ngasa.

“Dengan diberikan pengakuan secara nasional, semoga menjadikan daya dorong bagi Kampung Jalawastu dalam pengembangan kampung budaya ini untuk mempertahankan adat istiadat dan lainnya,” ungkap Agung.

Sementara itu, Idza Priyanti mengimbau agar warga setempat senantiasa mempertahankan tradisi Adat Ngasa Kampung Jalawastu yang telah dikenal masyarakat luas. Segala kearifan lokal yang ada harus dipertahankan, sehingga tradisi adi luhung dapat terus bertahan dan lestari. Pihaknya berkomitmen akan senantiasa memperhatikan Kampung Jalawastu dengan penambahan infrastruktur dan lainnya.


Keunikan Kampung Jalawastu

Kampung Jalawastu memang dikenal unik oleh masyarakat sekitar. Di era modern, warga kampung setempat masih mempertahankan bangunan rumah tradisional berlantai tanah, berdinding lempengan kayu, dan beratapkan jerami. warga di pedukuhan yang letaknya berada sekitar 60 kilometer dari pusat kota Brebes ini masih memegang teguh tradisi yang mereka anut.

Membangun rumah dengan menggunakan semen, keramik, dan genteng adalah pantangan bagi mereka. Pantangan itu telah diyakini oleh masyarakat setempat selama ratusan tahun secara turun temurun. Masyarakat meyakini, membangun rumah tanpa menggunakan semen dan keramik dapat mencegah terjadinya bencana longor, mengingat desa tersebut berada di kawasan perbukitan, Gunung Kumbang.

Menurut cerita warga setempat, Carmi (50), mereka tidak berani melanggar pantangan-pantangan tersebut. Dari kesaksiannya di tahun 2000, pernah ada seseorang yang mencoba melanggar, kemudian timbul bencana tanah longsor.

Sampai sekarang, kampung yang dihuni 350 jiwa dan 120 keluarga ini rumah-rumahnya tanpa menggunakan bahan semen dan keramik. Di kampung tersebut, genteng pun tidak dapat ditemui sebagai atap rumah. Warga memilih menggunakan jerami maupun seng untuk menutupi bagian atas rumah.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda