Tidak Ditawari Pakai Ambulan, Jenazah Bayi di Tegal Dibawa Pulang Pakai Sepeda Motor - Warta Brebes

Senin, 28 Desember 2020

Tidak Ditawari Pakai Ambulan, Jenazah Bayi di Tegal Dibawa Pulang Pakai Sepeda Motor

TEGAL - Nasib nahas menimpa pasangan suami istri, Muhammad Jaenal Amin (24) dan Nurjanah (21). Anak pertamanya yang baru lahir meninggal dunia, seusai mendapat perawatan di RSI PKU Muhammadiyah Singkil, Adiwerna, Kabupaten Tegal.

Ironisnya, saat akan dibawa pulang ke rumah duka, menurut penuturan orang tua pasien, pihak rumah sakit tidak memberi tawaran menggunakan ambulan. Sehingga, jenazah bayi laki-laki itu pun dibawa orang tuanya dengan sepeda motor sekitar pukul 03.00 WIB.

”Digendong naik motor sama kakak saya. Saya tidak ditawari naik mobil ambulan. Mungkin karena saya keluarga tidak mampu,” ujar Muhammad Jaenal Amin, ayah sang bayi, saat ditemui di rumahnya Desa Adiwerna, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Senin (28/12).

Amin menjelaskan peristiwa tersebut berawal pada 18 Desember sekitar pukul 11.00 WIB. Istrinya dirawat di RSI PKU Muhammadiyah Singkil, sesudah sebelumnya mendapat rujukan dari Puskesmas Adiwerna.

Sesudah menginap semalam, istrinya melahirkan bayi laki-laki, Sabtu (19/12), sekitar pukul 16.40 WIB. Kemudian keesokan harinya, istrinya dipersilakan pulang, tetapi sang bayi tetap ditinggal di rumah sakit.

Selanjutnya, Minggu (20/12) malam, mendadak dia mendapat kabar dari pihak rumah sakit, jika kondisi anaknya kritis. Tanpa menunggu lama, Amin langsung menuju ke ruangan tempat anaknya dirawat.

Ia kaget saat berada di ruangan, wajah anak pertamanya itu sudah membiru. Amin pun tidak kuasa melihat kondisi anak pertamanya itu. ”Sekitar jam setengah satu malam, Senin (21/12) dini hari, saya dikabari kalau anak saya meninggal dunia.”

Dalam kondisi panik dan sedih, Amin menanyakan kepada pihak rumah sakit mengapa anaknya meninggal dunia. Kala itu, pihak rumah sakit hanya menjelaskan jika sang bayi meninggal, karena ada cairan ketuban di paru-paru dan jantungnya.

Disinyalir, air ketuban dalam kandungan ibu bayi pecah.” Pihak rumah sakit hanya menjenjelaskan itu saja. Tidak menjelaskan mengapa ada luka di pinggang anak saya,” tuturnya.

Parahnya lagi, lanjut Amin, dini hari itu juga pihak rumah sakit meminta agar jenazah bayi langsung dibawa pulang. Bahkan, pihak rumah sakit meminta uang jaminan sebesar Rp 4 juta, karena BPJS Kesehatan belum diproses.

Namun, setelah dinegosiasi, Amin hanya mampu menyerahkan uang jaminan sebesar Rp 500 ribu dan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTPl). Tetapi, uang itu akhirnya dikembalikan lagi, setelah BPJS Kesehatan sudah diproses.

”Jenazah bayi langsung kami bawa pulang sekitar jam tiga pagi. Tubuh bayi sudah pakai kain,” terangnya.

Sementara itu, saat bayi dimandikan sebelum dimakamkan, ada yang melihat di tubuh bayi terdapat luka. Tepatnya di pinggang samping. Kemudian di tangan kanan juga terdapat lebam.

Padahal, saat baru lahir, tubuh bayi terlihat normal tanpa luka. Amin mengaku sempat melihat anaknya itu ketika masih dirawat di inkubator. ”Lukanya diketahui oleh Pak Lebe yang memandikan jenazah anak saya,” ujarnya.

Istrinya, papar Amin, juga mengaku tidak melihat ada luka di tubuh anaknya. Saat baru melahirkan, dia sempat melihat tubuh anaknya dan yakin jika anaknya normal.

”Tapi mendadak meninggal dunia. Padahal waktu baru lahir, sempat menangis dan normal,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medis RSI PKU Muhammadiyah Singkil, Adiwerna, Abdurrahman mengaku telah menawarkan kepada pihak keluarga agar jenazah dibawa pulang dengan menggunakan mobil ambulan.

”Dari prosedurnya kami telah menawarkan mobil ambulan, tetapi pihak keluarga tidak berkenan, sehingga kami tidak memaksakan,” paparnya.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda