-->

Mata Lele Penyebab Banjir Pekalongan Berwarna Hijau

Foto: Dokumentasi Cnnindonesia.com

PEKALONGAN - Dunia maya tengah dihebohkan dengan berbagai unggahan warga terkait banjir di beberapa titik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Pasalnya, banjir disebut-sebut tidak lazim karena airnya berwarna hijau.

Padahal lumrahnya, warna air saat terjadi banjir di Indonesia berwarna keruh coklat.

Usut punya usut air banjir yang berwarna hijau itu terjadi karena mengandung tanaman yang dikenal dengan istilah mata lele atau duckweed.

Hal itu dikatakan oleh Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Pekalongan, Dimas Arga Yudha.

"Banjir warna hijau, karena air membawa tumbuhan mata lele. Biasanya mata lele ini berada di tambak-tambak, rawa, ataupun bekas sawah dan cekungan yang ada genangan airnya," ujarnya dilansir dari Detik.com, Minggu (24/1).

Seperti dilansir dari KKP.go.id, melalui tulisan yang diunggah Balai Riset Budaya Ikan Hias, Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Duckweed atau Mata Lele masuk dalam kategori tanaman paku-pakuan di dalam air. Mata lele juga kerap dijadikan pakan ikan.

Tanaman ini disebut terdiri dari 14 jenis atau spesies. Meski begitu, tidak semua jenis mata lele dapat dimanfaatkan.

Justru dari 14 spesies yang ditemukan, jenis Azolla lah yang paling populer untuk pakan ikan.

Tidak heran, sebab Mata Lele ini disebut memiliki nilai nutrisi yang tinggi, terutama protein. Kandungan proteinnya bahkan bisa 40 persen dari berat keringnya.

Selain kandungan protein yang baik, tumbuhan ini memiliki keunggulan bisa dikultur dengan biaya murah karena dapat tumbuh di air limbah yang mengandung unsur hara tinggi. Tanaman ini juga merupakan agen fitoremediasi untuk mengolah limbah cair, membersihkan air dari unsur-unsur hara dan bahan pencemar lainnya, seperti bahan organik, nutrien, serta logam berat.

Sementara itu, di beberapa negara termasuk Indonesia, Mata Lele masih digunakan sebagai pakan ikan, China justru telah mengembangkan Mata Lele untuk tanaman herbal.

Lebih lanjut, merujuk Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Limbologi LIPI, Tjandra Crismadha tumbuhan ini bersifat kosmopolitan atau dapat tumbuh di mana saja di daerah tropis, terutama pada perairan tergenang di ketinggian rendah.

Tidak hanya itu, Mata Lele atau Duckweed juga disebut bisa tumbuh dengan cepat bahkan disebut-sebut dapat mencapai 40 persen per hari. Meski begitu duckweed atau Mata Lele bukan jenis tanaman berumur panjang.

Maksimal dia hanya dapat hidup sekitar 10 hari dan mampu menghasilkan hingga 20 anakan yang menempel pada induknya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel