Metadata, Data Pengguna yang Mau Dibagi WhatsApp ke Facebook - Warta Brebes

Sabtu, 16 Januari 2021

Metadata, Data Pengguna yang Mau Dibagi WhatsApp ke Facebook

Foto: Dokumentasi Arstechnica.com

Jakarta - Pakar keamanan siber dari Vaksin.com Alfons Tanujaya mengungkap data pengguna yang akan dibagikan Whatsapp ke Facebook bersifat metadata. Metadata adalah informasi yang dikumpulkan perusahaan internet mengenai penggunanya.

Whatsapp diketahui telah mengumumkan pembaruan ketentuan layanan dan aturan privasi pengguna. Salah satunya poin dalam aturan itu menyebutkan akan berbagi data dengan Facebook sebagai induk perusahaan.

Di sisi lain Facebook memiliki sejarah miring dalam menjaga data pribadi penggunanya. Hal ini lantas mengundang kekhawatiran pengguna.

Menurut Alfons, informasi yang dikumpulkan Whatsapp dari pengguna ada dua, yaitu terkait informasi dasar perangkat ponsel serta informasi dasar dari pengguna.

Informasi perangkat dapat mengenai detail perangkat keras, merek, tipe, memori, sistem operasi yang Anda gunakan, informasi peramban, Detail IP dan ISP pengguna, jaringan layanan seluler yang digunakan, nomor telepon, serta pengidentifikasi perangkat.

Sedangkan informasi dasar pengguna di antaranya kapan Anda berkirim pesan, siapa yang Anda kenal, siapa yang dikirimi pesan, seberapa sering berkomunikasi dengan seseorang atau grup, hingga lokasi ketika sedang melakukan chatting atau berbagi lokasi.

"Dari informasi metadata pengguna, Whatsapp bisa mengetahui pola komunikasi Anda tanpa perlu mengetahui isi komunikasi," ungkap Alfons dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (16/1). Dilansir dari cnnindonesia.com.

Menurut Alfons, metadata bisa memperlihatkan siapa yang sering dikontak, kapan, dan seberapa intens. PA metadata bisa menunjukkan riwayat komunikasi jangka panjang dan menunjukkan tingkat hubungan komunikasi seseorang.

"Karena pola komunikasi dengan keluarga, teman, teman dekat dan 'teman dekat lain' memiliki pola tersendiri yang tidak dapat dihindari dan akan terdeteksi dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi jika memiliki metadata dalam jangka panjang," ujarnya.

Selain itu Whatsapp juga bisa mengetahui profil diri melalui group yang Anda ikuti. Misalnya, lingkaran pertemanan, hobi, hingga afiliasi politik.

"Hal yang mirip seperti terjadi pada kasus Cambridge Analytica yang mengantarkan Donald Trump ke kursi kekuasaan sangat mungkin terjadi lagi dengan pemanfaatan metadata ini. Jadi di tangan orang yang mengerti mengelola data, memang data menjadi komoditas yang paling berharga di muka bumi ini," ujar dia.

Yang Harus Dilakukan Pengguna

Alfons menilai pengguna tidak perlu langsung menghapus Whatsapp karena kebijakannya itu. Sebab, dia menilai apa yang dilakukan Facebook group (Whatsapp) sebetulnya tak berbeda dengan perusahaan internet lain.

"Sebagai contoh Youtube, Anda dapat memilih untuk tidak mendapatkan iklan dan membayar uang berlangganan. Namun tetap saja metadata Anda diolah oleh Youtube dan digunakan untuk kepentingannya, salah satunya yakni untuk menampilkan rekomendasi video lain ketika Anda menonton suatu video. Jadi dalam kasus ini, telah bayarpun tetap metadatanya diolah," jelasnya.

Alfons menyarankan untuk menyikapi ini pengguna sebaiknya mencegah satu perusahaan menguasai pasar terlalu besar dengan cara gunakan lebih dari satu aplikasi perpesanan. Dengan demikian, pengguna dapat mencegah perusahaan terkait bertindak arogan dan cenderung monopolistik.

"Mulai gunakan Line, Telegram, atau Signal. Bukan karena lebih aman atau tidak mengeksploitasi data penggunanya karena pada prinsipnya semua penguasa pasar akan melakukan hal yang sama karena ada biaya besar pengadaan layanan (bandwidth, server etc) yang harus mereka tanggung," ujar dia.

Ia menambahkan kunci lain dalam menghadapi masalah ini yaitu peran pemerintah untuk melindungi konsumen, sementara masyarakat harus secara sadar berusaha mencegah pasar menjadi monopolistik.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda